PENGAWASAN K3 KONSTRUKSI

BAB I
PENDAHULUAN

Berdasarkan data statistik, kasus kecelakaan yang terjadi di tempat kerja dalam pekerjaan konstruksi sangat tinggi. Hal ini disebabkan karena masih banyak pengurus maupun tenaga kerja belum mengenal dan memahami peraturan K3 yang berkaitan dengan pekerjaan mereka.

Dengan demikian perlu adanya upaya pengendalian, pembinaan, penyuluhan dan pelatihan tentang K3 dalam bidang konstruksi sehingga dapat dicapai kondisi dan lingkungan kerja yang aman.

Melalui topic-topik yang dibahas dalam modul ini diharapkan dapat membantu para calon ahli K3 dalam pemahaman peraturan K3 di bidang konstruksi.

BAB II
PENGAWASAN K3 KONSTRUKSI

A. Latar Belakang
Pekerjaan kontruksi bangunan merupakan pekerjaan yang mengandung potensi bahaya, sehingga dalam memberi perlindungan keselamatan kerja kepad pekerja diperlukan syarat-syarat keslamatan dan kesehatan kerja yang sangat tinggi. Tahapan dalam konstruksi bangunan berhubungan dengan seluruh tahapan yang dilakukan di tempat kerja. Diantara tahapan yang ada yakitu pekerjaan penggalian, pekerjaan pondasi, pekerjaan beton, pekerjaan baja, dan pembongkaran.
Penggalian. Penyebab kecelakaan yang timbul dari pekerjaan penggalian antara lain, pekerjan yang disa tertimbun dan terkubur di dalamnya akibat runtuhnya dinding galian, pekerja tertimpa dan luka akibat terjatuhnya material di dalam galian, kondisi tidak aman baik di dalam maupun diluar galian akibat licinnya galian.
Pondasi. Pekerjaan pondasi merupakan suatu kegiatan pemasangan struktur bawah bangunan yang dapat digunakan untuk menahan beban bangunan.
Pekerjaan Beton. Pada saat proses pengecoran berlangsung pada umumnya pekerja selalu pada posisi tetinggian tertentu yang dapat berakibat pekerja terjatuh, material pencampur yang tidak boleh bersinggungan dengan kulit bahkan terhirup oleh pernapasan pekerja.
Pekerjaan Baja. Bahaya yang timbul dari pekerjan pemasangan baja pekerja dapat jatuh dari ketinggian tertentu dari permukaan tanah, terperosok, tertimpa material bangunan.
Pembongkaran. Bahaya yang di timbulkan dari pembongkaran bangunan adalah pekerja dapat tertimpa atau runtuhnya bangunan, terperosok dari ketinggian tertentu dari permukaan tanah.

B. Dasar Hukum
1. Undang-undang Dasar 1945
2. Undang-undang No 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja
3. Peraturan Menteri Tenaga Kerja No 1/Men/1980 tentang K3 Konstruksi Bangunan
4. Surat keputusan besama Menteri Tenaga Kerja dan Menteri Pekerjaan Umum No Kep174/Men/1986 dan No 104/Kpts/1986 tentang K3 Tempat Kegiatan Kontruksi Bangunan
C. Pengertian/Istilah
Istilah-istilah tentang K3 kontruksi dan sarana bangunan:
1. Kontruksi bangunan
2. Tempat kerja kegiatan kontruksi bangunan
3. Sarana bangunan
4. Perancah bangunan
5. Kontraktor
6. Sub Kontraktor
7. Pekerja Kontruksi beton
8. Tahapan pekerjaan kontruksi bangunan, yang mengunakan bahan bangunan
9. Pekerjaan konstruksi baja
10. Pekerja penggali
11. Pekerja Pondasi
12. Wajib lapor pekerja konstruksi bangunan
13. Kepala proyek
14. Scaffolder adalah pekerja pemasang, penguna dan pembongkar perancah
15. Safety officer adalah pekerja yang melaksanakan K3 di bidang konstrusi bangunan
16. Ahli K3 kontruksi
17. Instalasi: lift orang, lift barang, listrik, penyalur petir, plambing, tata udara
18. Penanganan bahan

D. Keselamatan dan Kesehatan Kerja Konstruksi dan Sarana Bangunan
Dalam upaya pencegahan kecelakaan kerja pada tempat proyek atau konstruksi, para pelaksana konstruksi wajib melaksanakan syarat-syarat teknis keselamatan dan kesehatan kerja sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
1. Keselamatan dan Kesehatan Kerja Konstruksi
a. Pekerjaan penggalian
Ketentuan Umum:
• Stabilitas tanah harus diuji dahulu sebelum dilakukan penggalian
• Melakukan pemeriksaan atas segala instalansi bawah tanah
• Prasarana umum harus dimatikan atau diputuskan alirannya, apabila tidak bisa maka prasarana tersebut harus dipagari, ditarik ke atas atau dilindungi
• Tanah harus dibersihkan dari pohon, batu besar dan rintangan lain
• Lokasi penggalian harus diperiksa secara teliti setelah pekerjaan terputus melebihi 1 hari, setelah setiap peledakan, ada longsoran, ada kerusakan pada konstruksi penyangga dan hujan lebat.
• Jalan keluar masuk yang aman
• Dilarang bekerja di tanah lepas yang kemiringannya terlalu terjal
• Harus ada konstruksi penyangga yang cukup
• Ada penerangan yang cukup
• Galian bebas dari air
• Ada jalan keluar untuk menyelamatkan diri
• Tidak ada yang diizinkan masuk ruang bawah tanah yang belum diuji bebas gas
• Pengujian gas harus dilengkapi dengan sabuk pengaman, tali penyelamat dan alat-alat pernapasan
• Ventilasi mekanis harus disediakan
• Tindakan penceghan harus diambil untuk melindungi runtuhnya bangunan

Persyaratan K3 pada pekerjaan penggalian :
• Tepi penggalian atau saluran harus dibuat dengan kemiringan tertentu, biasanya 45 derajat
• Penggalian diatas 1,2 m harus dipasang perancah bai yang terbuat dari kayu
• Penggalian tidak boleh dilakuakn pada batas bangunan atau suatu struktur.
• Material dan peralatan harus diletakkan berjauhan dari pinggir galian
• Tanah hasil galian atau sampah galian tidak diletakkan di tepi galian
• Meletakkan Stopblock di lokasi tempat kendaraan menurunkan material ke dalam galian
• Tersedia penerangan yang cukup
• Pekerja harus diinformasikan secara jelas tentang prosedur penggalian
• Menggunakan pelindung kepala dan kaki saat penggalian berlangsung
• Melakukan koordinasi dengan instansi lain mengenai instalansi llistrik, gas, air dsb
• Tidak menggunakan alat penggalian mesin (excavator) pada jarak 50 cm dari pipa gas

b. Pekerjaan Pondasi
Persyaratan Umum:
• Mesin pemancang harus ditumpu oleh dasar yang kuat, diberi tali atau rantai penguat secukupnya dan tidak boleh digunakan di dekat jaringan listrik
• Lantai kerja dan tempat kerja operator harus terlindungi dari cuaca
• Saluran uap atau udara harus dibuat dari pipa baja atau semacamnya

c. Pengerjaan Beton
Persyaratan Umum
• Konstruksi beton bertulang yang berat untuk kerangka atap dan kerangka atas lainnya harus didasarkan pada gambar rencana
• Selama pembangunan harus dicatat data sehari-hari mengenai kemajuan pembangunan, termasuk data yang mempengaruhi kekuatan beton menurut waktunya

d. Pekerjaan Konstruksi Baja
Persyaratan umum
• Penjaminan keselamatan pekerja dengan penyediaan dan pemakaian tangga, gang, peralatan kerja tetap, pelataran kerja, tali pengaman dan sabuk pengaman serta jaring pengaman
• Kerangka baja yang sedang dipasang harus disangga dan dikopel secukupnya

2. Keselamatan dan Kesehatan Kerja Sarana Bangunan
a. Perancah
Peraturan umum
• Perancah harus dibuatkan untuk semua pekerjaan yang tidak bias dikerjakan secara aman dalam ketinggian
• Perancah hanya dapat dibuat dan dirubah oleh pengawas yang ahli.

b. Pelataran Tempat Kerja
Peraturan umum
• Semua perancah harus dilengkapi dengan platform untuk bekerja
• Pelataran paling sedikit dari tepi luarnya berjarak 60 cm dari sisi dinding bangunan
• Penyediaan tempat yang bebas dari rintangan dan timbunan
• Pelataran bekerja harus menggunakan papan pengaman kakai berukuran tebal min 2,5 cm dan lebar min 15 cm
• Harus benar-benar berkonstruksi kuat

E. Pengawasan K3 Konstruksi dan Sarana Bangunan
1. Wajib Lapor Pekerjaan/Proyek Konstruksi Bangunan
Setiap pekerjaan konstruksi bangunan yang akan dilakukan wajib dilaporkan kepada direktur atau pejabat yang ditunjuk
2. Akte Pengawasan Ketenagakerjaan Proyek Konstruksi Bangunan
a. Pengertian
Terdiri dari: data pelaksana konstruksi/pengawas-perencana konstruksi, data teknis proyek, berita acara pemeriksaan, kartu pemeriksaan dan lembaran pemeriksaan.
b. Batasan
Tempat kerja/pekerjaan konstruksi bangunan dengan waktu proyek 6 bulan atau lebih harus diterbitkan akte ini dan akte harus diserahkan Pelaksana Konstruksi kepada Pemberi Tugas/Pemilik setelah proyek selesai
c. Pengesahan Akte
1. Setelah meneliti wajib lapor pekerjaan proyek/konstruksi bangunan
2. Melakukan pemeriksaan K3 proyek oleh pengawas spesialis K3 konstruksi
3. Menerbitkan akte pengawasan
4. Melakukan pemeriksaan berkala, sampai proyek selesai.

F. Perancah
Perancah adalah pelataran kerja atau platform yang dibuat sementara dan digunakan sebagai penyangga tenaga kerja, bahan-bahan dan peralatan kerja.
Jenis-jenis perancah:
• Perancah frame
• Perancah kayu bulat
• Perancah pipa
• Perancah tiang tunggal dengan lantai kerja menggunakan plat
• Perancah tiang tunggal dengan bracket
• Perancah bergerak
• Perancah kuda-kuda
• Perancah persegi
• Perancah gantung
• Perancah tupang sudut
• Perancah mekanik

Yang harus diperhatikan dalam keselamatan kerja perancah:

1. Pemeriksaan dan pengujian
Merupakan proses riksa dan uji secara sistematis terhadap keadaan fisik dari suatu objek konstruksi bangunan perancah, yang bertujuan untuk menilai kelayakan kondisi perancah.
2. Pengesahan
Setiap perancah yang digunakan harus memiliki pengesahan penggunaan perancah dari Kantor Dinas Tenaga Kerja Pemerintah Kota/Kabupaten setempat, tetapi sebelumnya harus dilakukan pemeriksaan dan pengujian:
a. Pemeriksaan pertama
Terdiri dari pemeriksaan dokumen teknik dan pemeriksaan lapangan
b. Pemeriksaan berkala

G. Plambing/Pemipaan
1. Fungsi instalansi plambing:
• penyediaan air bersih
• membuang air kotor

2. Jenis-jenis plambing
• Instalansi plambing air bersih
• Instalansi plambing air kotor
• Instalansi plambing air hujan

3. Pemeriksaan dan pengujian
Objek pemeriksaan dan pengujian adalah instalansi pipa penyalur, tangki, hydrostos, alat-alat perlengkapan dan pengaman
4. Pengesahan
Sebelum instalansi plambing dipakai, pemilik mengajukan permohonan pengesahan penggunaan kepada Dinas Tenaga Kerja Kabupaten/Kota. Sebelum dikeluarkan pengesahan, harus dilakukan pemeriksaan dan pengujian pertama.

H. Penanganan Bahan
Ada beberapa jenis untuk menangani bahan baik dalam mengangkut, mengangkat, memindahkan maupun menyimpan bahan. Penanganan bahan dapat berjalan dengan aman dan selamat jika dilakukan sesuai dengan prosedur yang berlaku, termasuk juga cara penyimpanannya.
Cara menyimpan atau menempatkan material tersebut harus disesuaikan dengan jenis material dan tanda-tanda khusus yang diperlukan harus dipasang.

I. Peralatan Bangunan
1. Instalansi lift barang
2. Instalansi lift orang
3. Instalansi listrik
4. Instalansi penyalur petir
5. Instalansi tata udara

BAB III
PENUTUP

Pembahasan peraturan mengenai Pengawasan K3 Konstruksi dapat dipergunakan sebagai referensi bagi para pengurus maupun ahli K3 di masing-masing perusahaan, sehingga dengan penerapan dan pengawasan K3 konstruksi yang efektif diharapkan akan dapat mengendalikan bahaya atau mengurangi bahkan dapat menghilangkan resiko yang ditimbulkan oleh pekerjaan tersebut.

Click To Download

Resume Materi 2 Pengawasan K3 Konstruksi

About these ads

Tentang NOF TONI WASKITO

WORKING AS HSE OFFICER DI PT. FREEPORT INDONESIA, ROCKFALL PROTECTION TEAM - GEOSERVICES, TEMBAGAPURA, PAPUA, INDONESIA

»

  1. Jun Harefa mengatakan:

    ada yang baru ne gan tentang dunia sipil……..

    silahkan kunjungi blog ini

    http://sipilworld.blogspot.com/

  2. Reno mengatakan:

    Informasi yang berguna sekali mas…. one question mas, ketentuan diatas merupakan persyaratan minimum kan ya? artinya kalau perusahaan bisa menyediakan requirements yang lebih bagus, tentu diperbolehkan..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s